Rupiah Melemah Tipis ke 16.298, Fokus Beralih ke Data Perumahan dan PMI Global AS
- Rupiah koreksi ringan ke Rp16.298 per dolar AS, mengikuti stabilisasi DXY setelah tekanan jual beruntun.
- Survei Perbankan BI mengindikasikan penyaluran kredit baru tumbuh signifikan, meski standar tetap ketat.
- Sentimen global dibayangi kritik Trump terhadap The Fed dan ketegangan dagang AS dengan mitra utama.
Nilai tukar rupiah Indonesia (IDR) bergerak melemah tipis pada perdagangan Rabu, berada di kisaran Rp16.298 per dolar AS (USD) menjelang sesi Eropa. Pergerakan ini menandai koreksi ringan setelah sempat menguat ke Rp16.258 sehari sebelumnya. Pasar tampak menahan langkah di tengah ketidakpastian global, sementara pasangan mata uang USD/IDR naik 0,25% menjelang sesi Eropa, mengikuti penguatan terbatas dolar AS.
Dolar AS Coba Pulih, Trump Tekan The Fed soal Suku Bunga
Di pasar global, Dolar AS (DXY) mencoba stabil setelah tekanan jual dalam tiga hari terakhir. Indeks DXY naik tipis 0,11% ke 97,51, meski masih jauh dari area 98,95 yang gagal dipertahankan pekan lalu. Koreksi tajam sebelumnya muncul ketika pelaku pasar mulai menakar ulang ekspektasi kebijakan The Fed, terutama setelah pernyataan keras Presiden AS Donald Trump. “Dia akan segera keluar, bagaimanapun juga. Dalam delapan bulan dia harus lengser. The Fed menjaga suku bunga terlalu tinggi, padahal kita seharusnya sudah berada di level 1%,” tegas Trump, yang kian gencar menekan Ketua The Fed Jerome Powell di tengah beban utang AS yang membengkak.
Tarif Baru AS Persempit Ruang Perdagangan Negara Berkembang
Ketidakpastian perdagangan global kembali meningkat menyusul langkah agresif Presiden AS Donald Trump. Negosiasi dengan India dan Uni Eropa tersendat, memunculkan kekhawatiran gangguan rantai pasok yang lebih luas. Di saat bersamaan, Trump mengumumkan kesepakatan bernilai besar dengan Jepang – termasuk investasi US$550 miliar ke AS. Sementara itu, Indonesia dan Filipina mencapai kesepakatan dengan tarif 19% untuk ekspor ke AS, sementara barang transhipped dari Indonesia dibebani tarif tambahan hingga 40%. Sentimen ini berpotensi menekan perdagangan negara berkembang dan mempersempit ruang penguatan rupiah
Kredit Domestik Tumbuh, Optimisme Pasar Masih Terjaga
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari sektor perbankan. Survei Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit baru pada triwulan II 2025 tumbuh signifikan dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) mencapai 85,22%, naik dari 55,07% pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh Kredit Modal Kerja dan Investasi, dan diprakirakan masih berlanjut pada triwulan III dengan SBT 81,71%. Meski standar penyaluran kredit tetap ketat – tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif 0,08 – outstanding kredit diprakirakan terus meningkat hingga akhir tahun, sejalan dengan prospek ekonomi dan moneter yang dinilai kondusif.
Data Perumahan AS dan PMI Global Jadi Penentu Arah USD/IDR
Optimisme dari pertumbuhan kredit domestik memberi peluang bagi rupiah untuk mempertahankan stabilitasnya. Namun, ruang penguatan tetap terbatas selama ketidakpastian global belum mereda, terutama terkait arah kebijakan The Fed dan ketegangan dagang AS yang masih membayangi arus perdagangan negara berkembang. Selanjutnya pekan ini, sentimen terhadap USD/IDR akan banyak dipengaruhi oleh rilis data awal PMI global pada hari Kamis, yang dinilai menjadi penggerak utama risiko pasar, sementara data Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) (Existing Home Sales) AS yang dirilis hari ini, juga dipantau sebagai pemicu tambahan pada sesi perdagangan Amerika Utara.
Pertanyaan Umum Seputar Tarif
Meskipun tarif dan pajak keduanya menghasilkan pendapatan pemerintah untuk mendanai barang dan jasa publik, keduanya memiliki beberapa perbedaan. Tarif dibayar di muka di pelabuhan masuk, sementara pajak dibayar pada saat pembelian. Pajak dikenakan pada wajib pajak individu dan perusahaan, sementara tarif dibayar oleh importir.
Ada dua pandangan di kalangan ekonom mengenai penggunaan tarif. Sementara beberapa berpendapat bahwa tarif diperlukan untuk melindungi industri domestik dan mengatasi ketidakseimbangan perdagangan, yang lain melihatnya sebagai alat yang merugikan yang dapat berpotensi mendorong harga lebih tinggi dalam jangka panjang dan menyebabkan perang dagang yang merusak dengan mendorong tarif balas-membalas.
Selama menjelang pemilihan presiden pada November 2024, Donald Trump menegaskan bahwa ia berniat menggunakan tarif untuk mendukung perekonomian AS dan produsen Amerika. Pada tahun 2024, Meksiko, Tiongkok, dan Kanada menyumbang 42% dari total impor AS. Dalam periode ini, Meksiko menonjol sebagai eksportir teratas dengan $466,6 miliar, menurut Biro Sensus AS. Oleh karena itu, Trump ingin fokus pada ketiga negara ini saat memberlakukan tarif. Ia juga berencana menggunakan pendapatan yang dihasilkan melalui tarif untuk menurunkan pajak penghasilan pribadi.