From now on we Elev8
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
We're more than just a broker. We're an all-in-one trading ecosystem—everything you need to analyse, trade, and grow is in one place. Ready to elevate your trading?
Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin di 131,10 yang lebih rendah 8,83% dari penutupan hari Senin. Batu bara ini dibuka dengan gap bawah di 137,00 dan sempat naik untuk mencatatkan tertinggi hari di 138,00. Namun, kenaikan tersebut tidak mendapatkan tindak lanjut karena komoditas ini turun ke terendah hari 131,10 dan menetap di level tersebut sampai penutupan. Batu bara melanjutkan penurunannya setelah ditolak tertinggi 2026 di 150,00 pada Senin lalu di tengah masih berlangsungnya perang AS-Israel dengan Iran.
Tren bullish batu bara ICE Newcaslte tetap kokoh meskipun ditutup merah untuk enam hari perdagangan berturut-turut karena masih di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 57,54 mengindiksikan momentumnya bullish-ke-netral yang baru saja lepas dari jenuh beli. Ini mengindikasikan momentum bullish memiliki ruang gerak yang lebih banyak atau momentum bullish menyusut lebih jauh ke wilayah netral.
Para investor mengamati perang di Timur Tengah karena peristiwa ini menjadi penggerak sentimen risiko pasar keseluruhan, tidak terkecuali pasar batu bara. ICE Newastle mencatakan tertinggi baru 2026 di 150,00 pekan lalu di tengah berlangsungnya sengketa antara AS-Israel dengan Iran.
Hal tersebut karena penutupan di Selat Hormuz mengakibatkan gangguan pengiriman Minyak dan Gas Alam Cair (Liquified Natural Gas/LNG) yang melewati selat itu. Ini mengakibatkan peningkatan permintaan batu bara untuk menjadi bahan baku pembangkit listrik alternatif selama pasokan LNG terganggu.
Terkait minyak, International Energy Agency (IEA) mengusulkan merilis cadangan minyak untuk meredam harga minyak, seperti diinformasikan oleh Wall Street Journal. Sementara itu, tidak ada berita terbaru terkait LNG selain pabrik LNG terbesar di Qatar, fasilitas Ras Laffan, yang menghentikan produksi.
Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia pada saat berita ini ditulis adalah sekitar 28°C dan diprakirakan tidak turun hujan sepanjang hari. Cuaca yang cerah tidak akan mengganggu proses pemuatan batu bara di pelabuhan sehingga para investor bisa mengabaikan cuaca dari faktor yang bisa memengaruhi harga batu bara pada hari ini.
Sementara untuk Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 102.K/MB.01/MEM.B/2026. Perlu diingat bahwa keputusan ini dibuat sebelum meletusnya serangan AS-Israel ke Iran pada akhir bulan lalu. Perubahan harga dari sebelumnya beragam, ada yang naik dan ada yang turun dengan perincian sebagai berikut;
Menanggapi lonjakan harga Minyak West Texas Intermediate (WTI) yang sempat menembus $100 pada Senin kemarin, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan tidak akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga Idul Fitri. Pemerintah masih mampu menambah subsidi untuk mempertahankan harga BBM bersubdisi di level saat ini.
Sementara untuk batu bara dalam negeri, Menteri Bahlil mengatakan pasokan batu bara untuk PLN tetap aman selama Ramadan dan Idul Fitri. Di luar itu, revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tetap menjadi perhatian. Menteri Bahlil mengisyaratkan produksi nasional di tahun ini dipangkas menjadi 600 juta ton setelah memproduksi 790 juta ton pada tahun sebelumnya. Beliau berpendapat hal tersebut dilakukan untuk menjaga harga dan cadangan batu bara agar bisa dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya.

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.