Mulai sekarang, kami Elev8
Kami bukan sekadar broker. Kami adalah ekosistem trading all-in-one—semua yang Anda butuhkan untuk menganalisis, trading, dan berkembang ada di satu tempat. Siap untuk meningkatkan trading Anda?
Kami bukan sekadar broker. Kami adalah ekosistem trading all-in-one—semua yang Anda butuhkan untuk menganalisis, trading, dan berkembang ada di satu tempat. Siap untuk meningkatkan trading Anda?
Harga batu bara ICE Newcastle front month berada di 131,00 yang lebih rendah 0,04% dari penutupan hari sebelumnya pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini dibuka dengan gap bawah di 131,00 dan belum menunjukkan pergerakan sejauh hari ini saat menantikan perkembangan dari perundingan AS-Iran.
Batu bara ini mendekam di dekat ujung bawah kisaran sideways yang terbentuk dari awal Maret di mana tertinggi 2026 bertindak sebagai ujung atas kisaran. Posisi harga komoditas ini membuat Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di 42,17, mengindikasikan bahwa momentumnya bearish karena berada di bawah level netral 50. Namun, dalam jangka lebih panjang batu bara ini mempertahankan tren bullish saat di atas Simple Moving Average 200-hari.
Suhu di area pelabuhan Newcastle Australia adalah sekitar 28°C berawan dengan peluang hujan sekitar 10% pada saat berita ini ditulis. Dengan informasi itu, cuaca diprakirakan tidak menganggu proses pemuatan batu bara di pelabuhan sehingga cuaca tidak menjadi faktor yang signifikan dalam memengaruhi harga komoditas ini dalam jangka pendek.
Sama seperti beberapa pekan terakhir, konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor dominan bagi sentimen risiko para pedagang yang pada akhirnya memengaruhi harga komoditas-komoditas, salah satunya batu bara. Di awal-awal meletusnya konflik AS-Israel dengan Iran, Batu Bara ICE Newcastle melonjak ke tertinggi baru 2026 di 150,00.
Delegasi-delegasi AS dan Iran dijadwalkan untuk melakukan perundingan terkait upaya damai antara kedua pihak di Pakistan selama akhir pekan. Berita apa pun yang muncul dari perundingan tersebut berisiko menggerakkan harga komoditas pada hari Senin pekan depan.
Perhatian utama para pedagang adalah yang terkait Selat Hormuz. Sebuah selat yang menjadi jalur sepertlima lalu lintas minyak dunia sebelum konflik. Selama konflik selat ini ditutup sehingga menganggu distribusi komoditas-komoditas yang berakibat meningkatkan harganya, terutama minyak.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) stabil di area $91,95 pada saat berita ini ditulis setelah jatuh dari area $106 menyusul adanya berita di awal pekan soal gencatan senjata selama dua minggu disusul upaya perundingan antara kedua pihak selama akhir pekan besok. Sehingga harga minyak diamati untuk mengukur sentimen pasar terhadap konflik.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 135.K/MB.01/MEM.B/2026. Sebagian besar menunjukkan kenaikan dengan perincian sebagai berikut;
Di tengah potensi krisis energi akibat geopolitik, pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada bahan bakar fosil terutama yang diimpor, salah satunya adalah melalui percepatan pembangunan ekosisten kendaraan listrik secara nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, menyebut pemerintah sedang menyiapkan kebijakan untuk memberikan kemudahan dan insentif dalam upaya mempercepat transisi energi, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.