A partir de agora, somos Elev8
Somos mais do que apenas uma corretora. Somos um ecossistema completo de trading — tudo que você precisa para analisar, operar e crescer está em um único lugar. Pronto para aprimorar seu trading?
Somos mais do que apenas uma corretora. Somos um ecossistema completo de trading — tudo que você precisa para analisar, operar e crescer está em um único lugar. Pronto para aprimorar seu trading?
Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 123,75 yang belum berubah pada hari ini. Belum adanya pergerakan harga sejauh ini menyusul harga batu bara yang bangkit dari 117,50, level terendah sejak 25 Februari 2025 kemarin. Komoditas ini hampir membalikkan seluruh kenaikan yang terjadi selama konflik Timur Tengah di tengah gagalnya perundingan damai baru antara AS dengan Iran.
Rebound batu bara kemarin sekaligus mempertahankan tren bullish jangka lebih panjang karena tetap di atas Simple Moving Averge (SMA) 200-hari. Namun, pasar perlu berhati-hati karena Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 38,81, masih mengindikasikan momentumnya bearish karena berada di bawah level netral 50.
Suhu di pelabuhan Newcastle Australia adalah 15°C hingga 22°C pada saat berita ini ditulis dengan situasi langit cerah. Keadaan ini membuat cuaca dihapus dari faktor yang dapat memengaruhi harga batu bara dalam jangka pendek karena proses pemuatan baru bara di pelabuhan diprakirakan berjalan lancar.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, sebelum tenggat waktunya segera berakhir. Perpanjangan tersebut menyusul kegagalan pelaksanaan perundingan damai antara AS dengan Iran.
Namun, AS masih melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan membuat Iran mengancam tidak akan membuka Selat Hormuz selama blokade tetap dilakukan. Kelanjutan penutupan selat ini jelas mengganggu distribusi minyak dan gas global yang pada akhirnya memengaruhi harga komoditas tersebut maupun komoditas energi lainnya seperti baru bara yang digunakan sebagai alternatif bagi gas untuk pembangkit listrik.
Ke depan, pasar komoditas tetap mengarahkan perhatiannya pada perkembangan di Timur Tengah serta menantikan kabar terbaru dari Kementerian Pertahanan Inggris yang sebelumnya mengatakan akan ada pertemuan para perencana militer dari lebih dari 30 negara di London untuk membahas upaya percepatan membuka kembali Selat Hormuz.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
Pemerintah Indonesia mempercepat penerapan biodiesel 50% (B50) dan menargetkan penggunaan B50 di seluruh Indonesia dimulai pada 1 Juli 2026. Seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kebijakan ini untuk menanggulangi kenaikan harga minyak mentah pasca konflik AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari lalu.
Kementerian ESDM terus melakukan uji coba penggunaan bahan bakar ini pada semua sektor. Sebetulnya, upaya ini sudah dilakukan sejak tahun 2025. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengatakan, "Awal 2025 kita sudah melakukan uji teknis laboratorium dan sudah selesai di pertengahan tahun lalu." Beliau lebih lanjut menerangkan pada Selasa kemarin bahwa, "lalu kita memang sudah melakukan kick off dan serentak uji di enam sektor. Jadi otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, lalu pembangkit, satu lagi kereta. Nah itu serentak dilakukan mulai tanggal 9 Desember 2025."
Hasil sementara uji jalan sampai April 2026 menunjukkan bahwa penggunaan B50 pada kendaraan diesel aman tidak menunjukkan kendala signifikan. B50 merupakan biodiesel bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan bahan bakar nabati (BBN) dengan komposisi 50%. Dorongan penggunaan biodiesel ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mandiri energi serta mengurangi ketergantungan pada minyak yang diimpor dari luar negeri.

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.